Sore menyambutku dengan hangat hari ini. Keadaan meja kantor yang sudah mulai berantakan, gelas kosong bekas buka puasa kemarin pun masih ada di atas meja. Lembaran kertas berhamburan tak tertata. Aku tak menyangka, di tempat ini aku bertahan selama ini. Selama 3 bulan jauh dari tanah kelahiran, tanah sunda yang telah lama membesarkan aku selama 23 tahun. Mungkin belum genap 3 bulan, hanya saja sungguh terasa lama karena mungkin ini tahun pertamaku pergi merantau ke luar pulau Jawa. Pertama kali juga aku menaiki besi terbang yang kita sebut pesawat terbang. Disini, pertama kali juga mendengar jembatan penyebrangan disebut “TOL”. Lucu memang, tapi ya begitulah.
Aku masih ingat saat pertama kali sampai di kota ini. Menunggu jemputan di lobi bandara Supadio. Melihat artis ibu kota yang mungkin akan manggung disini. Dikelilingi banyak fans yang minta foto. Aku hanya tertawa kecil melihatnya. Cuaca panas menyengat lebih menarik perhatianku. Dengan setelan celana pendek, sepatu sport, T-shirt dan jaket seadanya tidak cocok rupanya dengan cuaca disini, panas. “Inilah kota Khatilistiwa”, pikirku dalam hati, kota 0 derajat dimana garis khatulistiwa melewai kota ini. Kata pamanku, “Nggak lengkap klo ke Pontianak nggak ke Tugu Khatulistiwa”. Itu jadi referensi tujuan wisataku ke kota ini.
Tak lama kemudian, temanku menelepon bertanya keberadaanku. Ternyata dia sudah datang dari tadi. “Ah, tau gitu aku telepon dia secepatnya dari pada terpanggang disini”. Julham namanya, orangnya ramah sesuai bayanganku saat kita berbincang di telepon. Dia sudah lama disini, mungkin hampir 1 tahun lamanya. Akhirnya kami bertemu dan kami berjalan ke arah jemputan. Disana sudah menanti driver, namanya bang Heru. Dia terlihat sedikit sangar awalnya. Tapi ketika bercakap-cakap dengannya, dia ternyata cukup ramah. Dia terlihat cukup bugar untuk orang seusianya. Dia lahir disini, tinggal disini dan sangat megetahui seluk beluk kota ini.
Jalan disini sangat lenggang, tidak seperti di ibukota. “Enak ya jalan-jalan disini” ucapku pada Julham. “Ya, ini hari minggu saja, tapi klo hari biasa ya macet juga”, balasnya. Kiri kanan kulihat suasana kota ini, asri, masih banyak pepohonan. Lapang, jarak antara rumah ke rumah cukup jauh dan serba luas. Tanah kosong masih banyak terhampar dimana-mana. Tak kulihat mini market yang biasa bertebaran di kota-kota besar. “Haha, saya pikir mini market seperti itu banyak juga disini” pikirku dalam hati.
Perjalanan kami pagi itu berhenti di sebuah tempat makan. Berada di pinggir jalan, ramai, banyak kendaraan parkir, baik motor maupun mobil. Julham dan Bang Heru menyebutnya “Garang Asem”. “Menu disini cuma ada 2 macam, garang asam sama Soto”, kata Julham. Kupikir Soto sudah umum dan pertama kali mendengar garang asam terasa asing. Aku penasaran dengan makanan ini. Aku ikut pesan juga. Kulihat banyak orang yang juga memesan ini. Tak lama kemudian, makanan pun datang di tambah teh hangat manis yang juga ikut ku pesan tadi. terlihat seperti ayam kukus dengan kuah tomat. Rasanya asam segar, sangat menyegarkan makan pagi itu.
Setelah itu dibawanya aku menuju kosan tempat aku tinggal nantinya. Ternyata tidak terlalu jauh dari tempat garang asam tadi. Kamarnya sangat luas pikirku, kamar mandi dalam walau tak ber-AC sudah cukup adem untuk ditinggali.
Hari itu menjadi hari pertamaku di Pontianak. Hari demi hari berlalu dan sampailah aku di hari ini. H-2 back home.
“Mama!! Aku pulang!!” :D