Hei kamu yang disana,
Sanggupkah kamu menangis sendiri tanpa ada bahu yang biasa menopangmu
Sanggupkah kamu melangkah sendiri tanpa ada tangan yang biasa menggenggam tanganmu
Sanggupkah kamu terlelap sendiri tanpa ada tubuh yang biasa memelukmu
Sanggupkah kamu bermimpi sendiri tanpa ada cerita yang biasa menenangkanmu
Hari itu saya akan pergi lagi, entah untuk berapa lama
Kamu dan saya akan menjalani ini sendiri lagi
Mungkin teknologi akan membantu, tapi itu tidak sama
dan saya akan selalu merindukan segala sesuatu darimu
senyumanmu, pelukanmu, hangatmu, ceritamu, manjamu, marahmu, kadang tangismu, cerewetmu juga, cemburumu, masakanmu, dan kamu.
Hei kamu yang disana,
Ini lingkaran kita, perjalanan kita.
Sanggupkah kamu menjalani ini semua denganku, sanggupkah kita menjalani ini semua bersama
Selalu, selamanya.
Sore menyambutku dengan hangat hari ini. Keadaan meja kantor yang sudah mulai berantakan, gelas kosong bekas buka puasa kemarin pun masih ada di atas meja. Lembaran kertas berhamburan tak tertata. Aku tak menyangka, di tempat ini aku bertahan selama ini. Selama 3 bulan jauh dari tanah kelahiran, tanah sunda yang telah lama membesarkan aku selama 23 tahun. Mungkin belum genap 3 bulan, hanya saja sungguh terasa lama karena mungkin ini tahun pertamaku pergi merantau ke luar pulau Jawa. Pertama kali juga aku menaiki besi terbang yang kita sebut pesawat terbang. Disini, pertama kali juga mendengar jembatan penyebrangan disebut “TOL”. Lucu memang, tapi ya begitulah.
Aku masih ingat saat pertama kali sampai di kota ini. Menunggu jemputan di lobi bandara Supadio. Melihat artis ibu kota yang mungkin akan manggung disini. Dikelilingi banyak fans yang minta foto. Aku hanya tertawa kecil melihatnya. Cuaca panas menyengat lebih menarik perhatianku. Dengan setelan celana pendek, sepatu sport, T-shirt dan jaket seadanya tidak cocok rupanya dengan cuaca disini, panas. “Inilah kota Khatilistiwa”, pikirku dalam hati, kota 0 derajat dimana garis khatulistiwa melewai kota ini. Kata pamanku, “Nggak lengkap klo ke Pontianak nggak ke Tugu Khatulistiwa”. Itu jadi referensi tujuan wisataku ke kota ini.
Tak lama kemudian, temanku menelepon bertanya keberadaanku. Ternyata dia sudah datang dari tadi. “Ah, tau gitu aku telepon dia secepatnya dari pada terpanggang disini”. Julham namanya, orangnya ramah sesuai bayanganku saat kita berbincang di telepon. Dia sudah lama disini, mungkin hampir 1 tahun lamanya. Akhirnya kami bertemu dan kami berjalan ke arah jemputan. Disana sudah menanti driver, namanya bang Heru. Dia terlihat sedikit sangar awalnya. Tapi ketika bercakap-cakap dengannya, dia ternyata cukup ramah. Dia terlihat cukup bugar untuk orang seusianya. Dia lahir disini, tinggal disini dan sangat megetahui seluk beluk kota ini.
Jalan disini sangat lenggang, tidak seperti di ibukota. “Enak ya jalan-jalan disini” ucapku pada Julham. “Ya, ini hari minggu saja, tapi klo hari biasa ya macet juga”, balasnya. Kiri kanan kulihat suasana kota ini, asri, masih banyak pepohonan. Lapang, jarak antara rumah ke rumah cukup jauh dan serba luas. Tanah kosong masih banyak terhampar dimana-mana. Tak kulihat mini market yang biasa bertebaran di kota-kota besar. “Haha, saya pikir mini market seperti itu banyak juga disini” pikirku dalam hati.
Perjalanan kami pagi itu berhenti di sebuah tempat makan. Berada di pinggir jalan, ramai, banyak kendaraan parkir, baik motor maupun mobil. Julham dan Bang Heru menyebutnya “Garang Asem”. “Menu disini cuma ada 2 macam, garang asam sama Soto”, kata Julham. Kupikir Soto sudah umum dan pertama kali mendengar garang asam terasa asing. Aku penasaran dengan makanan ini. Aku ikut pesan juga. Kulihat banyak orang yang juga memesan ini. Tak lama kemudian, makanan pun datang di tambah teh hangat manis yang juga ikut ku pesan tadi. terlihat seperti ayam kukus dengan kuah tomat. Rasanya asam segar, sangat menyegarkan makan pagi itu.
Setelah itu dibawanya aku menuju kosan tempat aku tinggal nantinya. Ternyata tidak terlalu jauh dari tempat garang asam tadi. Kamarnya sangat luas pikirku, kamar mandi dalam walau tak ber-AC sudah cukup adem untuk ditinggali.
Hari itu menjadi hari pertamaku di Pontianak. Hari demi hari berlalu dan sampailah aku di hari ini. H-2 back home.
“Mama!! Aku pulang!!” :D
Aku sayang kamu, tapi kamu tidak
Mungkin aku egois
Aku mengerti kamu, tapi kamu tidak
Apakah aku juga egois?
Aku tak tahu pasti.
Hello Indonesia,
Happy Birthday!!
Selamat ulang tahun!!
Otanjoubi Omedeto!!
Sudah tua juga dirimu, masih tetap berjuang dan berkembang.
23 tahun lalu, saya dilahirkan dibumi Indonesia ini, tongkat dan kayupun jadi tanaman serta kolam pun jadi susu. Begitulah perumpamaan para musisi-musisi kita menyebutmu. Kita sama-sama tahu kalau negeri kita itu subur dan makmur, buktinya adalah sumber daya alam yang melimpah di berbagai daerah negerimu.
Sekarang, di berbagai media informasi, dirimu dibanggakan. Sayapun bangga menjadi orang Indonesia, akan selalu bangga bagaimanapun keadaanmu saat ini.
Saya jadi teringat masa-masa sekolah dulu. Kita diwajibkan datang ke sekolah untuk merayakan hari jadimu. Upacara bendera di tengah teriknya matahari. Hormat ketika benderamu berkibar di tiang tinggi. Mendengar pidato mengenai detik-detik kamu berdiri merdeka. Tapi tak sedikitpun dari kami yang menghindari acara ini. Beralasan jadi panitia 17-an lah di daerah rumahnya, beralasan sakit, mengantar teman sakit, dan sebagainya. Saya tidak tahu bagaimana jika pihak sekolah tidak mewajibkan acara ini, mungkin hanya sebagian dari kami yang hadir. Mungkin sayapun begitu, tetap menarik selimut dan kembali tidur. Zzzzzzzz.
Sudah lama saya tidak merasakan panasnya upacara, pegalnya berdiri terlalu lama, mendengarkan pidato kemerdekaan, mengeceng siswi kelas sebelah :p, memilih barisan paling belakang supaya bisa bercanda dan ngobrol, padahal badan saya tidak terlalu tinggi, jadi semestinya ada dibarisan paling depan. Ya, saya rindu saat itu, setidaknya ikut bagian dalam perayaanmu.
Sekarang, menurut saya bukan upacaranya yang menjadi inti, tetapi bagaimana kita menyikapinya. Bagaimana caranya kita menghargai negeri kita yang semakin tua ini, seberapa besar bangganya kita pada Indonesia. Ketika banyak orang yang lebih memilih liburan ke luar negeri padahal masih banyak tempat di Indonesia yang tidak kalah bagusnya dengan itu semua. Tapi ketika semua itu diklaim negara tetangga, semua berteriak GANYANG!!
Saya pun bercermin pada diri sendiri,
Saya hanya bisa mengamati situasi negeri ini, belum bisa berbuat banyak pada negeri ini. Saya hanya sering berkomentar tanpa ada solusi. Ikut menghujat tentang korupsi di negeri ini, penyelewengan dana, kemiskinan, dan lain-lain tapi saya hanya diam, tak bisa bertindak.
Semoga esok hari saya, kita, kalian bisa berubah, bisa bertindak. Ubahlah dimulai dari diri kita sendiri dan menjadi lebih baik, pasti Indonesiapun akan lebih baik lagi.
MERDEKA!!!
In light of the recent disasters, our hearts are focused on the vibrant and wonderful community in Japan. Your resilience is inspiring, and we hope that recovery will be swift and complete. 少しでも皆さんの力となり、一日でも早く日常の生活が取り戻せる事を願います。
As of today, Japanese is now the newest language available on Tumblr. We’re very grateful for our amazing members in the Japanese community, and we hope you’ll find the new option useful. You can change your language setting on your Preferences page.
To aid the relief and emergency efforts, we’re asking all of our members to contribute to Red Cross International from your Dashboard. Look for the message on the sidebar. Members who donate will unlock the Limited Edition Japanese Tumblr Logo, and Tumblr will match your contributions up to $15,000.
You can also keep up with news from Japan via the #Japan tag page.
日本の皆さま, 頑張ってください。
Love, タンブラー
Beautiful graphic by Rob Dobi
Please forward / spread this message from Japan !!
Dear all Green activists around the world,
Hello this is Rina from RH2 Network (International NGO in Japan).
It’s been 5 days since the magnitude 9.0 earthquake hit the Northern region of Japan, and we’ve seen many changes with the situation throughout these days.
The Japanese people are spending days without sufficient sleep and are nervous when the aftershocks and nuclear power plant situation will alleviate .
Everyday we are under an information overload about the current nuclear power plant situation and are left to pray for it to get better.
However, at the same time I feel that this is a clear case where people can make their voices heard and take concrete action that nuclear power is not the way to go.
We can not predict earthquakes and the Tsunami, but we can prevent any further damage by refusing nuclear plants in Japan and in all over the world.
I would like to take this opportunity to call for all Green activists and organizations around the world to take action for Japan and the world in making a movement towards the stop of nuclear power.
Please write a statement or carry out other actions then post it on your website or send it to electricity companies as well as energy officials in your country.
If it is possible, please translate it in Japanese so that we can collect it and present it to the Japanese people, government, and electricity companies when appropriate.
(I can also help translate into Japanese)
Please lend Japan a hand to overcome this and shift to more sustainable forms of energy as renewables. This is a challenge posed to the world.
Also, let us know if there is anything we can do to help with your actions or if you need any information.
Thank you so much, with hope and love from Japan.
—
Rina Ariizumi
Renewable Hydrogen Network rh2.org
Global RH2 Community Catalyst
Address:
Hakutsubo 202, 1-5-4 Hakusan
Bunkyou-ku, Tokyo 113-0001
Tel: (+81) 80-3364-4613
Mail :
rna@rh2.org
Twitter: @rh2news
@ rna0101